Petualangan Air Langit
![]() |
| Ilustrasi. |
Maka dimulai dari sebuah garis start nun jauh di atas sana, di antara bibir-bibir awan hujan yang kelabu, tetes-tetes air langit itu memulai perjalanan hidupnya. Seolah bertanya-tanya, akan seperti apakah kiranya guratan takdir masing-masing ketika mereka sampai ke garis finish di muka Bumi? Sebuah garis finish yang nyatanya, bukanlah akhir dari perlombaan yang menyenangkan itu, melainkan awal dari sebuah pengembaraan dan berbagai petulangan baru.
Mereka tahu, karena memang dikabari oleh para juri, bahwa memenangkan perlombaan tercepat mencapai Bumi tidak otomatis membuat nasib mereka menjadi baik dan terhormat. Memiliki kecepatan terjun terbaik tidaklah selalu membuat mereka menjalani petualangan sebagai air yang terhormat menurut pandangan para penghuni Bumi.
Hanya satu prinsip yang harus mereka gigit kuat-kuat, apa pun yang terjadi nanti, bagaimana pun bentuk dan rupa mereka kelak, akan kemana mereka mengalir, apa pun tugas mereka, sepanjang itu bermanfaat, pastilah semuanya akan menyenangkan. Tak peduli apakah penghuni Bumi memandangnya terhormat, atau sebaliknya, hina dina.
Sore ini, setelah beberapa saat membuat gaduh atap-atap rumah, perlombaan meluncur dari langit itu pun usai. Tetes demi tetes air langit itu diam sejenak. Mengambil napas. Syahdu memandang langit, juga awan hujan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.
Ada yang bertengger di ranting pohon dan dedaunan, ada yang tidur-tiduran di atas tanah atau aspal jalanan, ada yang bergelayut di kaca-kaca mobil, atau lihat di sana, ada yang sudah disambut hangat kawan-kawan lama mereka di sungai dan selokan. Langsung dibawa pergi entah ke mana.
Yang jelas, sekarang tak nampak lagi siapa pemenang, siapa pecundang. Semua sama. Tak ada beda, siapa yang paling dahulu mencapai Bumi dengan siapa yang paling terakhir. Hadiah mereka juga sama, yaitu kesempatan akan sebuah petualangan baru yang tentunya lebih seru dari sekedar perlombaan meluncur dari ketinggian langit.
Mereka pun bersorak sorai.
Pelan namun pasti, petualangan itu pun dimulai. Pelan namun pasti, tetes demi tetes air langit itu menghilang dari pandangan. Dari jalanan. Dari atap-atap rumah. Dari ranting dan dedaunan. Dari sejenak mereka diam mengambil napas sambil memandang syahdu langit dan awan hujan kala itu. Mereka kini, mengejar garis petualangan mereka masing-masing.
Garis petualangan yang begitu beragam.
Ada yang didapati menempuh jalan hidup terhormat. Setelah menghilang usai perlombaan dulu, mereka tiba-tiba muncul di tempat penampungan di masjid-masjid. Berlarian melalui keran-keran air guna menyucikan penghuni Bumi yang hendak menghadapkan wajah pada Sang Pencipta yang agung. Sungguh petualangan yang luar biasa.
Ada pula yang didapati menempuh jalan hidup yang seolah-olah hina; menjadi air kencing. Dipandang sebelah mata. Tak sudi para penghuni Bumi menyentuhnya, apalagi meminumnya.
Namun, betapa pun profesi ini hina di mata penghuni Bumi, mereka ingat pesan para juri. Maka sekali pun mereka tak nampak bersedih. Mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan riang gembira. Kenapa sebab? Karena mereka tahu, meskipun wujud mereka hina, namun pada dasarnya, mereka tetaplah berguna. Amat berguna malah.
Jika penghuni Bumi tidak bisa kencing karena mereka ambil pusing dengan pandangan hina mereka, tentu akan runyam segala urusan. Akan penuh kamar-kamar di rumah sakit. Atau bisa jadi, akan semakin masif lubang-lubang kubur digali.
Hmm...

0 komentar:
Posting Komentar