Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Jumat, 11 September 2015

Petualangan Air Langit


Ilustrasi.
Setelah sekian lama, sore ini, hujan turun lagi. Tetes demi tetes air langit itu seolah gembira berkejaran, berlomba, siapa yang paling cepat mencapai muka Bumi. Menguarkan aromanya yang khas. Juga membuat gaduh atap-atap rumah.

Maka dimulai dari sebuah garis start nun jauh di atas sana, di antara bibir-bibir awan hujan yang kelabu, tetes-tetes air langit itu memulai perjalanan hidupnya. Seolah bertanya-tanya, akan seperti apakah kiranya guratan takdir masing-masing ketika mereka sampai ke garis finish di muka Bumi? Sebuah garis finish yang nyatanya, bukanlah akhir dari perlombaan yang menyenangkan itu, melainkan awal dari sebuah pengembaraan dan berbagai petulangan baru.

Mereka tahu, karena memang dikabari oleh para juri, bahwa memenangkan perlombaan tercepat mencapai Bumi tidak otomatis membuat nasib mereka menjadi baik dan terhormat. Memiliki kecepatan terjun terbaik tidaklah selalu membuat mereka menjalani petualangan sebagai air yang terhormat menurut pandangan para penghuni Bumi.

Hanya satu prinsip yang harus mereka gigit kuat-kuat, apa pun yang terjadi nanti, bagaimana pun bentuk dan rupa mereka kelak, akan kemana mereka mengalir, apa pun tugas mereka, sepanjang itu bermanfaat, pastilah semuanya akan menyenangkan. Tak peduli apakah penghuni Bumi memandangnya terhormat, atau sebaliknya, hina dina.

Sore ini, setelah beberapa saat membuat gaduh atap-atap rumah, perlombaan meluncur dari langit itu pun usai. Tetes demi tetes air langit itu diam sejenak. Mengambil napas. Syahdu memandang langit, juga awan hujan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.

Ada yang bertengger di ranting pohon dan dedaunan, ada yang tidur-tiduran di atas tanah atau aspal jalanan, ada yang bergelayut di kaca-kaca mobil, atau lihat di sana, ada yang sudah disambut hangat kawan-kawan lama mereka di sungai dan selokan. Langsung dibawa pergi entah ke mana.

Yang jelas, sekarang tak nampak lagi siapa pemenang, siapa pecundang. Semua sama. Tak ada beda, siapa yang paling dahulu mencapai Bumi dengan siapa yang paling terakhir. Hadiah mereka juga sama, yaitu kesempatan akan sebuah petualangan baru yang tentunya lebih seru dari sekedar perlombaan meluncur dari ketinggian langit.

Mereka pun bersorak sorai.

Pelan namun pasti, petualangan itu pun dimulai. Pelan namun pasti, tetes demi tetes air langit itu menghilang dari pandangan. Dari jalanan. Dari atap-atap rumah. Dari ranting dan dedaunan. Dari sejenak mereka diam mengambil napas sambil memandang syahdu langit dan awan hujan kala itu. Mereka kini, mengejar garis petualangan mereka masing-masing.

Garis petualangan yang begitu beragam.

Ada yang didapati menempuh jalan hidup terhormat. Setelah menghilang usai perlombaan dulu, mereka tiba-tiba muncul di tempat penampungan di masjid-masjid. Berlarian melalui keran-keran air guna menyucikan penghuni Bumi yang hendak menghadapkan wajah pada Sang Pencipta yang agung. Sungguh petualangan yang luar biasa.

Ada pula yang didapati menempuh jalan hidup yang seolah-olah hina; menjadi air kencing. Dipandang sebelah mata. Tak sudi para penghuni Bumi menyentuhnya, apalagi meminumnya.

Namun, betapa pun profesi ini hina di mata penghuni Bumi, mereka ingat pesan para juri. Maka sekali pun mereka tak nampak bersedih. Mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan riang gembira. Kenapa sebab? Karena mereka tahu, meskipun wujud mereka hina, namun pada dasarnya, mereka tetaplah berguna. Amat berguna malah.

Jika penghuni Bumi tidak bisa kencing karena mereka ambil pusing dengan pandangan hina mereka, tentu akan runyam segala urusan. Akan penuh kamar-kamar di rumah sakit. Atau bisa jadi, akan semakin masif lubang-lubang kubur digali.

Hmm...

Rabu, 02 September 2015

Kau Selalu Bertanya Padaku


Kau selalu bertanya padaku. Tentang hal-hal yang ingin kau ketahui. Dan kau selalu datang, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu.

Lalu, setelah itu, kau juga selalu pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu. Buru-buru mencocokkan berbagai jawaban yang kau dapatkan dengan dunia nyata tempatmu hidup dan melihat segalanya berjalan.

Dan aku yakin, kau pasti akan kembali lagi. Karena memang, hidupmu selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang kadang aku sendiri tak tahu harus bagaimana jawabannya kurajut, logikanya kubangun, dan teorinya kucipta.

Di malam yang tenang ini, kau datang. Waktu yang selayaknya bisa membuat pertanyaan demi pertanyaan bisa sejenak mengenap dalam buaian mimpi-mimpi.

Namun rasa-rasanya, kau tak akan mampu menyimpannya hingga pagi menjelang. Kau sudah tahu bahwa mimpi-mimpi tak ubahnya obat penenang belaka. Esok ketika pendar jingga mulai merona di kaki langit timur, rimbunan petanyaan itu bahkan bisa tumbuh berlipat-lipat.

Maka dapat kupastikan, kau masih seperti semula. Datang kesini hanya untuk bertanya. Tak lebih dari itu. Bahkan sebenarnya, kau tidak membutuhkan jawaban-jawaban. Bertanya, itulah sebenarnya jawabanmu.

Kucicipi segelas kopi di depanku, kemudian menatapmu tenang dan bersahaja. Kali ini kau bertanya tentang sesuatu yang selalu dikejar-kejar penghuni Bumi. Kebahagiaan, di manakah ia berada?

Mual dan pening aku menerima pertanyaanmu. Bukan karena aku tak paham. Bukan pula karena aku tak seperti mereka. Tidak ikut-ikutan mengejar kebahagiaan. Sungguh bukan. Tapi terlebih karena aku memiliki pengalaman panjang mengejar kebahagiaan. Pengalaman, yang kadang kalau diingat-ingat, benar-benar menyesakkan. Membuat mual dan pening.

Tahukah kau, bahwasanya saudara kembar dari kebahagiaan adalah kesengsaraan. Mereka serupa tapi tak sama. Jika kau tak bersua dengan kebahagiaan, maka kau hanya akan berjabat tangan dengan saudara kembarnya. Pengalaman panjang itu mengajarkan aku demikian.

Akan tetapi, aku tak tega melihat matamu itu. Sinar matamu merajuk, meminta, seolah-olah ia berkata, apapun yang terjadi, aku ingin tetap bertanya. Padamu.

Baiklah. Kebahagiaan, di manakah ia berada? Matamu berbinar, bersiap menyimak. Sedangkan aku semakin mual dan pening.

Kutarik napas panjang sejenak. Sekilas kupandangi purnama nun jauh di sana.

Lama kau tunggu jawabanku. Namun yang terjadi adalah, malah aku yang bertanya padamu; jika kau bertanya tentang tempat tinggal kebahagiaan, lalu, sejauh mana kau telah mencarinya?

Binar matamu meredup. Seolah-olah ia berkata, jangan tanyakan itu padaku, karena sebenarnya kau tahu, usahaku serasa sudah maksimal. Sudah berdarah-darah. Sudah kulangkahkan kaki ribuah kilometer jauhnya dari sebuah tempat bernama rumah.

Sepertinya gubuk kebahagiaan berada di utara, lalu kukayuh sepeda mengejarnya. Lalu setelah tiba di utara, aku bingung, tak tampak sekalipun gubuk kebahagiaan itu. Seperti yang kau katakan, yang ada hanya gubuk saudara kembarnya. Aku bersalaman dengannya.

Aku bersimpuh lesu. Dengan sepeda rubuh di sampingku.

Sekonyong-konyong melintas serombongan kafilah dari selatan. Kata mereka, rumah kebahagiaan ada di selatan.

Tanpa pikir panjang, kutumpangi bis tercepat menuju selatan. Aku bingung lagi, sesampai di sana, tak sekalipun tampak rumah kebahagiaan itu. Yang tampak hanya rumah saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.

Aku terduduk lesu. Menatap sayu bis yang mulai berlalu.

Lalu hinggap di depanku serombongan burung dari barat. Mereka bersiutan. Riuh memberitahu bahwa istana kebahagiaan itu ada di barat.

Bisa kau bayangkan bukan, betapa tertariknya aku. Ini bukan lagi sekedar rumah apalagi gubuk kebahagiaan. Ini istananya kebahagiaan! Saat itu, belum sanggup kubayangkan sebesar apa istana kebahagiaan ini.

Maka kembali kulangkahkan kaki. Seiring dengan berseminya harapan, kutumpangi kereta tercepat menuju barat. Tunggu aku wahai istana kebahagiaan!

Namun sesampai di sana, kuhanya bisa membiarkan kereta tercepat berlalu dengan wajah sendu. Tahukah kau? Di sana tak ada sekalipun istana kebahagiaan itu. Yang ada hanya istana saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.

Aku mulai muak. Dunia ini ternyata dipenuhi omong kosong.

Di tengah memuncaknya kekesalan hati, datanglah padaku seorang lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan. Dia mengatakan bahwa surganya kebahagiaan ada di timur.

Ini lebih hebat dari sekedar istana. Tapi aku sudah terlanjur muak. Ini pati omong kosong! Yang ada pastilah surga versi saudara kembarnya. Dan aku tak mau lagi bersalaman dengannya.

Kulangkahkan kaki ini. Tapi tidak. Tidak ke timur, melainkan ke...

Aku tahu. Maaf aku memotong ceritamu. Aku tahu ke mana kau pergi setelah itu. Bukankah sekarang kau ada di hadapanku? Bukankah kau selalu datang dan bertanya, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu?

Dan kau mengangguk pelan.

Ketahuilah wahai tamuku, kebahagiaan itu hampir serupa dengan bayanganmu sendiri. Jika kau diam, dia akan diam. Jika kau kejar, dia akan berlari secepat kau mengejarnya.

Tak peduli kau mengejarnya jauh hingga ribuan kilometer dari rumahmu, yang kau dapatkan hanya kesia-siaan. Kau mungkin tak akan merasakannya, karena yang kau kejar sebenarnya adalah bayanganmu sendiri. Begitu dekat. Bahkan ia adalah cerminan dari dirimu.

Keningmu mengerut. Lalu kau bertanya lagi, kalau kau begitu dekat dengan kebahagiaan itu, kenapa kau tak bisa merasakannya? Apalagi melihatnya?

Itu simple terjadi karena kau membelakangi bayanganmu. Cukuplah kau menoleh ke arahnya, searah dengan datangnya cahaya, maka kau akan melihatnya.

Maka kawan, jika kau datang ke sini untuk mendapatkan jawaban, maka jawabannya adalah, menolehlah. Tolehkanlah persepsi dalam dirimu. Lihatlah hal-hal sekecil apa pun yang membuatmu bahagia. Maka kau akan mulai tersenyum, dan kau akan bahagia saat itu juga. Tanpa harus berkelana ribuan kilometer jauhnya dari rumahmu.

Bayanganmu akan selalu kau lihat manakala kau tahu dari arah mana cahaya datang menyinarimu. Sama juga dengan kebahagiaan. Kebahagiaanmu juga tak akan pernah habis manakala kau tahu siapakah Dia Sang Maha Pencipta kebahagiaan. Yang karenaNya makhluk bernama kebahagiaan tercipta untuk menemani harimu, hariku, dan hari kita semua.

Maka benar, kau tidak perlu memperhatikan ucapan lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan itu. Semestinya pula, kau acuhkan saja igauan serombongan kafilah dari selatan yang kau jumpai. Apalah lagi hanya siutan serombongan burung dari barat. Percayalah padaku, mereka semua tak ada beda dengan kau saat ini, galau mencari sesuatu bernama kebahagiaan.

Kusandarkan punggung ini pada daun kursi. Memejamkan mata. Kuhela napas pelan. Tak kuperdulikan wajahmu yang sekilas kulihat terpana dengan mulut ternganga.

Hening.

Kubuka mata sesaat setelah kudengar derit pintu ruang tamu membuka dengan cepat. Kudapati diriku hanya sendiri di ruang tamu rumahku sendiri. Menatap daun pintu yang kini terbuka. Melambai-lambai pelan tertiup sepoi angin barat.

Ah! Kau telah pergi. Selalu saja begitu. Pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu.

Aku hanya bisa maklum. Itu artinya, kau sudah selesai bertanya. Itu kan yang kau harapkan?

Aku juga mengerti. Suatu saat kau akan datang lagi. Tanpa lebih dahulu memberitahu, apalagi mengetuk pintu.

Aku tahu itu. Aku tahu karena, kau selalu bertanya padaku.