Makan Enak atau Enak Makan?
| Makan Sate Madura |
Momen bahagia Anam juga momen bahagia bagi kami. Maka sore itu, kami merayakan kebahagiaan ini dengan menyantap sate bersama. Sate Madura di sebuah warung sate kaki lima pinggir jalan. Satenya gratis, ditraktir oleh Ustadz Umar Abdullah, Direktur Pesantren Media.
Kami makan dengan lahap. Setidaknya, ada dua hal yang membuat kami makan dengan lahap. Satenya enak dan suasana hati kami yang sedang bahagia atas kemenangan Anam. Jadi meskipun lokasinya di pinggir jalan, di tengah hiruk pikuk orang dan kendaraan, sate di hadapan kami ludes dalam waktu yang relatif singkat.
Suatu waktu di Madura, kalau tidak salah ketika masih SMA, saya pernah memakan makanan yang sama. Sate ayam Madura dengan racikan bumbu dan kelezatan yang sama. Tapi, waktu yang dihabiskan untuk menghabiskan satu porsi sate itu ternyata lebih lama dibandingkan sate yang saya makan bersama teman-teman ketika merayakan keberhasilan Anam. Padahal, saat itu posisinya sama, di pinggir jalan yang penuh dengan hiruk pikuk, di warung kaki lima. Hanya saja memang, saat itu saya makan sate sendirian dengan suasana hati sedang diterpa badai. Mulut memang sedang mengunyah. Tapi pikiran terbang entah ke mana. Rasa sate yang sebenarnya lezat itu pun juga terbang entah ke mana.
Saya juga ingat akan sebuah kenangan di masa SD. Ketika itu ibu saya bekerja mengikat bibit rumput laut ke bambu-bambu yang terikat satu sama lain. Orang lokal menyebut bambu-bambu itu ancak. Bambu-bambu yang dipenuhi bibit rumput laut ini nantinya akan direndam agak ke tangah pantai. Setelah beberapa bulan, rumput laut di bambu-bambu itu tumbuh semakin banyak. Jika sudah tiba saatnya, rumput laut itu pun dipanen.
Suatu hari, ibu mengajak saya ikut bersamanya. Saat itu adalah saat pertama kali saya diajak ibu melihat langsung proses ‘penanaman’ rumput laut. kebahagiaan meliputi hati saya saat itu.
Tepat tengah hari, ibu mengeluarkan bungkusan berisi makanan. Tidak ada tempat tertutup yang bisa kami gunakan untuk makan siang. Akhirnya, kami memilih duduk di atas rerumputan, menyantap makan siang kami sambil menatap lautan.
Makan siang kami sederhana. Tidak ada resep spesial di dalamnya. Yang ada hanya dua bungkus nasi putih bercampur butiran nasi jagung dengan lauk anak cumi-cumi goreng. Anak cumi-cuminya kecil-kecil. Anak cumi-cumi yang paling besar ukurannya tidak lebih besar dari kelingking anak kecil usia 7 tahun. Digoreng dengan hanya dibumbui garam.
Meskipun menunya cukup sederhana, saya dan ibu saya memakannya dengan sangat lahap. Lihatlah, di tempat terbuka dengan angin yang kencang, yang jauh dari kemewahan sebuah restoran, dengan menu makanan ala kadarnya, kami masih bisa makan siang dengan lahap dan menyenangkan.
Dari sini saya mulai berpikir bahwa, makanan enak belum tentu menjadikan seseorang bisa enak makan. Selain sakit secara fisik, kondisi hati juga berpengaruh terhadap enak tidaknya makanan. Ketika seseorang (meskipun tidak semua) memang sedang banyak masalah, makanan enak bisa jadi hambar di lidahnya. Atau ketika seseorang sedang dilanda kesibukan luar biasa, makanan enak boleh jadi hanya lewat saja di mulut. Tahu-tahu sudah masuk ke perut. Tidak terasa lagi nikmatnya.
Sebaliknya, sesederhana apa pun makanan yang ada, ketika kita menyantapnya disertai kebahagiaan yang membuncah bersama orang-orang terkasih, ketika misalnya berdua saja dengan istri atau suami, bersama ayah ibu, sahabat, dan lain sebagainya, maka makanan sederhana itu bisa berubah menjadi makanan luar biasa lezat. Bahkan kenangan ketika menyantapnya pun kadang tidak mudah lekang oleh waktu.
Nah, sekarang teman-teman pilih yang mana? Makan makanan enak atau enak makan? Kalau saya pilih dua-duanya, makanannya enak, saya juga sedang enak makan. Wah, pasti gemuknya cepat tuh.
0 komentar:
Posting Komentar