Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Minggu, 16 April 2017

Arti Seribu Rupiah


Jadi teringat masa lalu. Jauh ketika diri ini masih ingusan. Setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu, keluar dengan mengenakan baju putih merah, bersepatu, membawa tas kecil berisi buku dan alat-alat tulis. Pergi menuntut ilmu.

Waktu itu, Ibu sering memberi saya uang jajan. Tak banyak, hanya Rp. 100. Dengan uang segitu, saya bisa membeli dua permen dan satu donat. Kok bisa? Ya bisa saja. Lha harga satu permen hanya Rp. 25, dan satu donat hanya Rp. 50. Walhasil, seandainya Ibu waktu itu memberi saya Rp. 1000 untuk uang jajan, berapa banyak lagi jajanan yang bisa saya beli?

Harga semangkok bakso saja kala itu hanya Rp. 250 per porsi. Ketika Ibu membawa saya ke kedai bakso, setiap selesai makan bakso, beliau biasanya berkata, "Mau nambah? Ayo nambah." Saya pun nyengir dan reflek menganggukkan kepala. Menginjak usia SMA, boro-boro nawarin nambah, saya minta dibelikan pun kadang Ibu masih mikir beribu kali. ^_^

Kembali ke jaman yang sedang saya dan kita semua hadapi saat ini, keadaan sudah jauh berubah. Pegang uang Rp. 1000, berapa banyak jajanan yang bisa dibeli anak-anak kita? Donat saja, dengan kualitas versi jajanan anak sekolah, rata-rata harganya bukan Rp. 50 lagi, tapi Rp. 1000! Maka punya uang Rp. 100, bisa dapat apa? Saya tanya istri saya, katanya 1 permen saja ngga dapat. Permen sekarang, tiga biji harganya Rp. 500.

Kue Takoyaki versi anak sekolah. Harga seribuan.
Maka tak heran, jika dulu pegang uang sepuluh ribu itu lama habisnya, maka sekarang pegang uang sepuluh ribu itu apalah artinya. Beli bakso saja kadang belum dapat. Karena harga bakso sekarang rata-rata di atas sepuluh ribu. Hmm...

Persoalan intinya adalah, apakah semua masyarakat di negeri ini bisa mengejar perubahan tersebut? Karena bagi sebagian orang, mungkin seribu rupiah memang sudah tak ada artinya. Nemu di jalan biasanya juga ogah memungutnya. Namun bagi sebagian yang lain, kita harus aware sekali, bahwa uang seribu rupiah itu masih begitu berarti, dikarenakan betapa sulitnya mencari uang.

Mudah-mudahan, di masa yang akan datang, Rp. 10.000 tidak menjelma menjadi Rp. 1000. Karena jika demikian, bisa jadi harga donat versi anak sekolah bertransformasi menjadi Rp. 10.000 per bijinya. Hehe...

Jumat, 11 September 2015

Petualangan Air Langit


Ilustrasi.
Setelah sekian lama, sore ini, hujan turun lagi. Tetes demi tetes air langit itu seolah gembira berkejaran, berlomba, siapa yang paling cepat mencapai muka Bumi. Menguarkan aromanya yang khas. Juga membuat gaduh atap-atap rumah.

Maka dimulai dari sebuah garis start nun jauh di atas sana, di antara bibir-bibir awan hujan yang kelabu, tetes-tetes air langit itu memulai perjalanan hidupnya. Seolah bertanya-tanya, akan seperti apakah kiranya guratan takdir masing-masing ketika mereka sampai ke garis finish di muka Bumi? Sebuah garis finish yang nyatanya, bukanlah akhir dari perlombaan yang menyenangkan itu, melainkan awal dari sebuah pengembaraan dan berbagai petulangan baru.

Mereka tahu, karena memang dikabari oleh para juri, bahwa memenangkan perlombaan tercepat mencapai Bumi tidak otomatis membuat nasib mereka menjadi baik dan terhormat. Memiliki kecepatan terjun terbaik tidaklah selalu membuat mereka menjalani petualangan sebagai air yang terhormat menurut pandangan para penghuni Bumi.

Hanya satu prinsip yang harus mereka gigit kuat-kuat, apa pun yang terjadi nanti, bagaimana pun bentuk dan rupa mereka kelak, akan kemana mereka mengalir, apa pun tugas mereka, sepanjang itu bermanfaat, pastilah semuanya akan menyenangkan. Tak peduli apakah penghuni Bumi memandangnya terhormat, atau sebaliknya, hina dina.

Sore ini, setelah beberapa saat membuat gaduh atap-atap rumah, perlombaan meluncur dari langit itu pun usai. Tetes demi tetes air langit itu diam sejenak. Mengambil napas. Syahdu memandang langit, juga awan hujan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.

Ada yang bertengger di ranting pohon dan dedaunan, ada yang tidur-tiduran di atas tanah atau aspal jalanan, ada yang bergelayut di kaca-kaca mobil, atau lihat di sana, ada yang sudah disambut hangat kawan-kawan lama mereka di sungai dan selokan. Langsung dibawa pergi entah ke mana.

Yang jelas, sekarang tak nampak lagi siapa pemenang, siapa pecundang. Semua sama. Tak ada beda, siapa yang paling dahulu mencapai Bumi dengan siapa yang paling terakhir. Hadiah mereka juga sama, yaitu kesempatan akan sebuah petualangan baru yang tentunya lebih seru dari sekedar perlombaan meluncur dari ketinggian langit.

Mereka pun bersorak sorai.

Pelan namun pasti, petualangan itu pun dimulai. Pelan namun pasti, tetes demi tetes air langit itu menghilang dari pandangan. Dari jalanan. Dari atap-atap rumah. Dari ranting dan dedaunan. Dari sejenak mereka diam mengambil napas sambil memandang syahdu langit dan awan hujan kala itu. Mereka kini, mengejar garis petualangan mereka masing-masing.

Garis petualangan yang begitu beragam.

Ada yang didapati menempuh jalan hidup terhormat. Setelah menghilang usai perlombaan dulu, mereka tiba-tiba muncul di tempat penampungan di masjid-masjid. Berlarian melalui keran-keran air guna menyucikan penghuni Bumi yang hendak menghadapkan wajah pada Sang Pencipta yang agung. Sungguh petualangan yang luar biasa.

Ada pula yang didapati menempuh jalan hidup yang seolah-olah hina; menjadi air kencing. Dipandang sebelah mata. Tak sudi para penghuni Bumi menyentuhnya, apalagi meminumnya.

Namun, betapa pun profesi ini hina di mata penghuni Bumi, mereka ingat pesan para juri. Maka sekali pun mereka tak nampak bersedih. Mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan riang gembira. Kenapa sebab? Karena mereka tahu, meskipun wujud mereka hina, namun pada dasarnya, mereka tetaplah berguna. Amat berguna malah.

Jika penghuni Bumi tidak bisa kencing karena mereka ambil pusing dengan pandangan hina mereka, tentu akan runyam segala urusan. Akan penuh kamar-kamar di rumah sakit. Atau bisa jadi, akan semakin masif lubang-lubang kubur digali.

Hmm...

Rabu, 02 September 2015

Kau Selalu Bertanya Padaku


Kau selalu bertanya padaku. Tentang hal-hal yang ingin kau ketahui. Dan kau selalu datang, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu.

Lalu, setelah itu, kau juga selalu pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu. Buru-buru mencocokkan berbagai jawaban yang kau dapatkan dengan dunia nyata tempatmu hidup dan melihat segalanya berjalan.

Dan aku yakin, kau pasti akan kembali lagi. Karena memang, hidupmu selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang kadang aku sendiri tak tahu harus bagaimana jawabannya kurajut, logikanya kubangun, dan teorinya kucipta.

Di malam yang tenang ini, kau datang. Waktu yang selayaknya bisa membuat pertanyaan demi pertanyaan bisa sejenak mengenap dalam buaian mimpi-mimpi.

Namun rasa-rasanya, kau tak akan mampu menyimpannya hingga pagi menjelang. Kau sudah tahu bahwa mimpi-mimpi tak ubahnya obat penenang belaka. Esok ketika pendar jingga mulai merona di kaki langit timur, rimbunan petanyaan itu bahkan bisa tumbuh berlipat-lipat.

Maka dapat kupastikan, kau masih seperti semula. Datang kesini hanya untuk bertanya. Tak lebih dari itu. Bahkan sebenarnya, kau tidak membutuhkan jawaban-jawaban. Bertanya, itulah sebenarnya jawabanmu.

Kucicipi segelas kopi di depanku, kemudian menatapmu tenang dan bersahaja. Kali ini kau bertanya tentang sesuatu yang selalu dikejar-kejar penghuni Bumi. Kebahagiaan, di manakah ia berada?

Mual dan pening aku menerima pertanyaanmu. Bukan karena aku tak paham. Bukan pula karena aku tak seperti mereka. Tidak ikut-ikutan mengejar kebahagiaan. Sungguh bukan. Tapi terlebih karena aku memiliki pengalaman panjang mengejar kebahagiaan. Pengalaman, yang kadang kalau diingat-ingat, benar-benar menyesakkan. Membuat mual dan pening.

Tahukah kau, bahwasanya saudara kembar dari kebahagiaan adalah kesengsaraan. Mereka serupa tapi tak sama. Jika kau tak bersua dengan kebahagiaan, maka kau hanya akan berjabat tangan dengan saudara kembarnya. Pengalaman panjang itu mengajarkan aku demikian.

Akan tetapi, aku tak tega melihat matamu itu. Sinar matamu merajuk, meminta, seolah-olah ia berkata, apapun yang terjadi, aku ingin tetap bertanya. Padamu.

Baiklah. Kebahagiaan, di manakah ia berada? Matamu berbinar, bersiap menyimak. Sedangkan aku semakin mual dan pening.

Kutarik napas panjang sejenak. Sekilas kupandangi purnama nun jauh di sana.

Lama kau tunggu jawabanku. Namun yang terjadi adalah, malah aku yang bertanya padamu; jika kau bertanya tentang tempat tinggal kebahagiaan, lalu, sejauh mana kau telah mencarinya?

Binar matamu meredup. Seolah-olah ia berkata, jangan tanyakan itu padaku, karena sebenarnya kau tahu, usahaku serasa sudah maksimal. Sudah berdarah-darah. Sudah kulangkahkan kaki ribuah kilometer jauhnya dari sebuah tempat bernama rumah.

Sepertinya gubuk kebahagiaan berada di utara, lalu kukayuh sepeda mengejarnya. Lalu setelah tiba di utara, aku bingung, tak tampak sekalipun gubuk kebahagiaan itu. Seperti yang kau katakan, yang ada hanya gubuk saudara kembarnya. Aku bersalaman dengannya.

Aku bersimpuh lesu. Dengan sepeda rubuh di sampingku.

Sekonyong-konyong melintas serombongan kafilah dari selatan. Kata mereka, rumah kebahagiaan ada di selatan.

Tanpa pikir panjang, kutumpangi bis tercepat menuju selatan. Aku bingung lagi, sesampai di sana, tak sekalipun tampak rumah kebahagiaan itu. Yang tampak hanya rumah saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.

Aku terduduk lesu. Menatap sayu bis yang mulai berlalu.

Lalu hinggap di depanku serombongan burung dari barat. Mereka bersiutan. Riuh memberitahu bahwa istana kebahagiaan itu ada di barat.

Bisa kau bayangkan bukan, betapa tertariknya aku. Ini bukan lagi sekedar rumah apalagi gubuk kebahagiaan. Ini istananya kebahagiaan! Saat itu, belum sanggup kubayangkan sebesar apa istana kebahagiaan ini.

Maka kembali kulangkahkan kaki. Seiring dengan berseminya harapan, kutumpangi kereta tercepat menuju barat. Tunggu aku wahai istana kebahagiaan!

Namun sesampai di sana, kuhanya bisa membiarkan kereta tercepat berlalu dengan wajah sendu. Tahukah kau? Di sana tak ada sekalipun istana kebahagiaan itu. Yang ada hanya istana saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.

Aku mulai muak. Dunia ini ternyata dipenuhi omong kosong.

Di tengah memuncaknya kekesalan hati, datanglah padaku seorang lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan. Dia mengatakan bahwa surganya kebahagiaan ada di timur.

Ini lebih hebat dari sekedar istana. Tapi aku sudah terlanjur muak. Ini pati omong kosong! Yang ada pastilah surga versi saudara kembarnya. Dan aku tak mau lagi bersalaman dengannya.

Kulangkahkan kaki ini. Tapi tidak. Tidak ke timur, melainkan ke...

Aku tahu. Maaf aku memotong ceritamu. Aku tahu ke mana kau pergi setelah itu. Bukankah sekarang kau ada di hadapanku? Bukankah kau selalu datang dan bertanya, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu?

Dan kau mengangguk pelan.

Ketahuilah wahai tamuku, kebahagiaan itu hampir serupa dengan bayanganmu sendiri. Jika kau diam, dia akan diam. Jika kau kejar, dia akan berlari secepat kau mengejarnya.

Tak peduli kau mengejarnya jauh hingga ribuan kilometer dari rumahmu, yang kau dapatkan hanya kesia-siaan. Kau mungkin tak akan merasakannya, karena yang kau kejar sebenarnya adalah bayanganmu sendiri. Begitu dekat. Bahkan ia adalah cerminan dari dirimu.

Keningmu mengerut. Lalu kau bertanya lagi, kalau kau begitu dekat dengan kebahagiaan itu, kenapa kau tak bisa merasakannya? Apalagi melihatnya?

Itu simple terjadi karena kau membelakangi bayanganmu. Cukuplah kau menoleh ke arahnya, searah dengan datangnya cahaya, maka kau akan melihatnya.

Maka kawan, jika kau datang ke sini untuk mendapatkan jawaban, maka jawabannya adalah, menolehlah. Tolehkanlah persepsi dalam dirimu. Lihatlah hal-hal sekecil apa pun yang membuatmu bahagia. Maka kau akan mulai tersenyum, dan kau akan bahagia saat itu juga. Tanpa harus berkelana ribuan kilometer jauhnya dari rumahmu.

Bayanganmu akan selalu kau lihat manakala kau tahu dari arah mana cahaya datang menyinarimu. Sama juga dengan kebahagiaan. Kebahagiaanmu juga tak akan pernah habis manakala kau tahu siapakah Dia Sang Maha Pencipta kebahagiaan. Yang karenaNya makhluk bernama kebahagiaan tercipta untuk menemani harimu, hariku, dan hari kita semua.

Maka benar, kau tidak perlu memperhatikan ucapan lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan itu. Semestinya pula, kau acuhkan saja igauan serombongan kafilah dari selatan yang kau jumpai. Apalah lagi hanya siutan serombongan burung dari barat. Percayalah padaku, mereka semua tak ada beda dengan kau saat ini, galau mencari sesuatu bernama kebahagiaan.

Kusandarkan punggung ini pada daun kursi. Memejamkan mata. Kuhela napas pelan. Tak kuperdulikan wajahmu yang sekilas kulihat terpana dengan mulut ternganga.

Hening.

Kubuka mata sesaat setelah kudengar derit pintu ruang tamu membuka dengan cepat. Kudapati diriku hanya sendiri di ruang tamu rumahku sendiri. Menatap daun pintu yang kini terbuka. Melambai-lambai pelan tertiup sepoi angin barat.

Ah! Kau telah pergi. Selalu saja begitu. Pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu.

Aku hanya bisa maklum. Itu artinya, kau sudah selesai bertanya. Itu kan yang kau harapkan?

Aku juga mengerti. Suatu saat kau akan datang lagi. Tanpa lebih dahulu memberitahu, apalagi mengetuk pintu.

Aku tahu itu. Aku tahu karena, kau selalu bertanya padaku.


Sabtu, 09 Mei 2015

Jiwa Api

















Jilatan merah mendesak-desak berkobar
Menyalak serupa malam pekat berpukat
Berkeriuhan di ranting-ranting lapuk rasa
Panas membakar hingga dingin lengang

Redup mata jiwamu dalam lara
Layu terbakar maya panas membara
Kerontang jiwa hendak dirasa lekat
Mentitah hati terbangkan gemulainya

Oh semburat air langit nan suci
Tak mau jua ia huni kerontang berdebunya
Tinggi pucuk jauh dari rendah yang dina
Tak menguar lelah dahaga menikam lubuk

Jalan ini berkeriutan menopang
Langkah-langkah hangus tak bernadi
Siapa pula yang di sana melambai tangan
Hanya mata air semu tak menapak tanah

Maka di mana kepak gemulai hati berpendar
Akankah ia seonggok sejarah tua
Tertulis rapuh di keriutan ranting-ranting lapuk
Menunggu api selamanya menghaguskannya

08/04/2014
10.02 WIB

Kamis, 03 Juli 2014

Menikmati Sunset di Tepi Pantai


Menjelang Ramadahn, biasanya di saat waktu berbuka telah dekat, Budiman sering terlihat mengayuh sepeda bututnya menuju sebuah pantai yang berada tak jauh dari rumahnya. Di pantai itu, ia sering terlihat berlama-lama memandangi sebuah mahakarya yang sangat indah; matahari berwarna kekuning-kuningan yang membulat indah, hendak terbenam, serta memancarkan pesonanya hampir ke setiap bagian pantai. 

Bagi Budiman, keindahan sunset yang berada di pantai dekat rumahnya tersebut sangat sulit untuk ia lupakan. Cahaya sunset yang kuning keemasan terlihat begitu memukau manakala bertemu dengan riak-riak kecil gelombang pantai. Sementara itu, langit, pasir, dedaunan, dan burung-burung bangau yang sedang terbang menuju sarangnya nampak berubah warnanya menjadi kekuning-kuningan. Sementara sekawanan burung bangau yang terbang melintas tepat di sunset yang semakin lama semakin menyusut di ujung samudera. Keindahan terasa semakin berkesan dengan adanya angina yang bertiup lembut, aroma pantai yang khas, suara kicau burung bangau, dan suara riak gelombang pantai yang mengalun pelan.

Keindahan panorama sunset yang memukau itu membuat Budiman berpikir. Apakah segala keindahan dan keteraturan yang ada ini terjadi dengan sendirinya? Akankah terjadinya peralihan antara siang dan malam bisa berjalan sendiri tanpa ada yang memandunya? Sesaat kemudian Budiman teringat ucapan seorang gurunya yang mengatakan bahwa tidak mungkin ada jejak kaki manusia yang tak bertuan. Pastilah ada yang mempunyai jejak telapak kaki tersebut.

Akhirnya, Budiman menarik sebuah kesimpulan bahwa mahakaya sunset yang indah di hadapannya pastilah ada yang menciptakan dan mengaturnya. Siapa lagi kalau bukan Allah swt, Tuhan pencipta langit dan bumi serta pemilik segala keindahan.

Note: Tulisan ini dibuat tiga tahun lalu. Sebagai tugas kelas menulis. Ditulis tangan dalam sebuah buku catatan karena belum punya laptop. Diketik kembali dengan tanpa merubah apa pun.

Senin, 21 April 2014

The Power of Harapan


Harapan. Ia ada di setiap relung hati manusia yang terdalam. Mengalun dalam segenap gerak, berhembus dalam setiap helai napas. Begitu ia padam, maka sebenarnya, di sanalah akhir dari semua cerita.

Dari sekian banyak harapan, marilah kita kumpulkan terlebih dahulu beberapa harapan yang mungkin terpendam dalam hati manusia; ingin sekolah, lulus ujian, mampu mencari nafkah, menikah, punya anak soleh dan solehah, masa tua yang terjamin, mendapat ridho Allah, masuk surga, dan masih banyak lagi.

Karena harapanlah, manusia bisa melampaui situasi yang sulit dan menyebalkan. Juga karena harapanlah, manusia bisa bertahan tinggal di sebuah tempat dengan kondisi yang jauh dari layak dan membuat tertekan. Berapa banyak kita jumpai orang-orang miskin, kekurangan pangan, papan, atau bahkan sandang. Mereka hidup serba kekurangan, bukan? Tapi mereka tetap bisa bertahan di tengah keterbatasan itu. Semua itu terjadi karena sebenarnya masih ada secercah harapan di hati mereka. Harapan akan hari esok yang lebih baik.

Juga adakah manusia di dunia ini yang tidak pernah merasakan pahitnnya kegagalan? Jawabannya tentu tidak ada. Setiap orang tentu pernah merasakan kegagalan. Entah kegagalan kecil maupun kegagalan besar. Tak sedikit yang terpuruk, hancur lebur di tengah keputusasaannya. Namun ada juga yang bangkit, mengejar kembali harapan-harapan baru yang kembali dirangkainya.

Kita lihat misalnya dalam sebuah dunia fiksi, dalam novel Laskar Pelangi. Bagi seorang Lintang, kemiskinan ternyata tak mampu menghalangi langkahnya menempuh puluhan kilometer pulang pergi naik sepeda ontel hanya untuk mendapatkan sebuah pendidikan. Tak peduli meski harus berhadapan dengan buaya yang melintang di tengah jalan. Buncah harapan itu ternyata bisa mengalahkan semua rintang.

Juga dalam dunia nyata. Marilah sejenak kita mundur ke masa berabad-abad lamanya. Sebuah jaman di mana belum ada mobil atau motor untuk berpergian. Hanya unta atau kuda yang menjadi pengantar setia perjalanan jauh. Sebuah masa di kala berhala-berhala dipuja. Sebuah masa di kala bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Kala itulah muncul seorang manusia mulia, Rasulullah Muhammad saw.

Rasulullah saw dan kebanyakan sahabatnya hidup dalam keterbatasan materi. Tak sedikit di antara sahabat yang bahkan mengganjal perutnya dengan batu, untuk menahan lapar. Rumah mereka, apalagi rumah junjungan kita Rasulullah saw, bukanlah rumah mewah bertaburkan permadani indah dan perabot rumah yang mahal dan enak dipandang. Namun lebih pada rumah sangat sederhana yang jauh sekali dari model rumah para pemimpin saat ini yang serba wah dan tak jarang harganya bisa mencapai milyaran rupiah.

Namun, harapan ternyata mampu mengalahkan semua keterbatasan itu. Harapan besar agar Islam tersebar seluas-luasnya, dikenal oleh sebanyak-banyaknya manusia, menjadi semacam way of life bagi seluruh manusia di muka bumi tanpa terkecuali. Juga harapan besar agar umat manusia terbebas dari penyembahan kepada selain Allah swt.

Hasilnya? Kita bisa lihat sekarang. Berabad-abad lamanya setelah Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat meninggal, Islam masih bersinar di muka bumi ini. Hingga rasa-rasanya, tak akan ada satu pun manusia di Bumi ini yang tidak pernah mendengar kata ‘Islam’ itu sendiri.

Tidak bisa dibayangkan seandainya harapan Rasulullah saw dan para sahabat dulu padam. Hilang oleh segala keterbatasan hidup dan tekanan dari orang-orang kafir saat itu, maka musibah besar umat manusia pastilah akan menimpa. Manusia mungkin tidak akan pernah mengenal apa itu Islam. Jangankan mengenal, mengenal kata ‘Islam’ saja mungkin tidak.

Oleh karenanya, ketika harapan telah padam, maka sebenarnya, di sanalah akhir dari semua cerita. Karena sebenarnya, bukan jantung semata yang berperan membuat seseorang tetap gagah menjalani hidupnya. Karena jika harapan telah padam, seseorang bahkan bisa memutuskan menikam jantungnya sendiri.

Rabu, 02 April 2014

Di Kala Menunggu Reda Hujan


Sore ini, Rabu, 02 April 2014, aku belum bisa beranjak dari pelataran Masjid Raya Bogor. Belum bisa pulang. Hujan yang turun, membuat aku tak bisa melangkah keluar, mencari angkot yang akan mengantarkan raga ini sampai ke rumah.

Tapi aku bahagia. Setidaknya, dari salah satu sisi masjid ini, aku bisa menatap hujan yang menerpa atap-atap rumah. Sesuatu yang sedari kecil – yang jarang kulakukan ketika usia ini semakin tua – sangat aku sukai. Entah kenapa, di setiap tetes demi tetes air langit itu turun menyapa semua yang ada di Bumi, hatiku menjadi amat tenteram. Hawa dingin serta aroma khasnya yang begitu kental kurasakan, bahkan bisa mendamaikan hatiku. Membawa kesegaran tak biasa yang seolah membangkitkan gairah untuk menjalani hidup.

Hujan semakin menderas. Bulir-bulirnya semakin banyak, mengaburkan pandangan. Seolah-olah ia berkata, “Sore ini, tetaplah kau di sini, Kawan. Lihatlah aku. Begitu bergairah melaksanakan tugas yang dititahkan Sang Pencipta alam semesta padaku. Selalu bersemangat menyapa dan menghidupi tanah-tanah gersang berdebu. Lihatlah, aku adalah rahmat-Nya yang baru tercipta. Apakah kau menyukaiku?”


Dalam diam, hatiku menjawab, “tentu saja aku menyukaimu, Hujan. Sejak kecil, ketika awan pekat mulai berarak menghias langit desa, aku selalu bersiap menyongsong kehadiranmu. Bersiap-siap dengan sejuta alasan yang kukarang untuk membujuk ibu supaya diperbolehkan berlarian mengitari rumah untuk bermain-main denganmu.”

“Dan aku selalu senang luar biasa ketika ibu mengijinkan. Dengan bertelanjang dada, aku berlari mengelilingi rumah. Berlari sambil menengadahkan wajah. Kau ingin tahu apa yang kurasakan saat itu? Kedamaian dan keceriaan yang begitu mendalam. Yang mungkin bahkan tak akan bisa kudapatkan dengan hanya nonton Ultraman, Power Ranger, atau makan bakso dan mie ayam. Mungkin engkau benar, dan para guru pastilah benar, bahwa engkau adalah rahmat-Nya yang baru tercipta. Hingga aku harus mengucapkan ini ketika berjumpa denganmu: Allahumma soyyiban nafian.”


Sebenarnya, maksud hati hendak berlama-lama bercerita tentang hujan. Menggali semua memori yang ada. Mengisahkan semua kisah tentangnya. Namun apa daya, indikator betere netbook sudah menyala merah. Pertanda dayanya sudah sangat lemah. Hampir habis setelah hampir satu jam menemaniku bercuap-cuap di radio terkait nasib buruk yang menimpa TKW nun jauh di negeri orang sana.

Maka, di antara riuh kerumunan anak-anak SD yang entah melakukan apa di pojokan sana, di antara beberapa orang yang ikut termanggu menunggu reda hujan di pelataran masjid, kuakhiri saja coretan ‘ngasal’ tentang hujan ini.

Akan kututup layar netbook, dan kembali menatap hujan yang mulai ditemani angin.[]

Senin, 31 Maret 2014

Benarkah Saya Spesial?


Setiap manusia dilahirkan spesial. Tak peduli dia keluar dari rahim seorang budak hina yang hitam legam sekalipun, dia tetaplah manusia, tetaplah spesial. Bahkan meskipun dia dilahirkan dalam keadaan hitam putih – kulit hitam gigi putih – dia tetaplah spesial. Diciptakan dan dilahirkan bukan karena Tuhan iseng, melainkan ada tujuan pasti di balik semuanya.

Namun demikian, ternyata tak sedikit manusia yang tumbuh menjadi peragu. Ragu atas dirinya sendiri. Tenggelam dalam pertanyaan, benarkah saya spesial? Bukankah ketika cermin memantulkan bayangan wajahnya, wajah itu penuh dengan jerawat? Bukankah ketika ia berdiri bersisian dengan orang lain, dia selalu yang paling pendek? Bukankah ketika disodorkan soal-soal, otaknya selalu buntu bahkan kadang heng? Lalu di mana letak istimewanya?

Entah pernah membaca atau mendengar, yang jelas, saya pernah menjumpai perumpamaan ini; kemarau setahun, sirna oleh hujan sehari. Sesuatu yang besar, hilang hanya oleh sesuatu yang remeh. Seseorang mungkin punya segudang kelebihan. Tapi semua kelebihan itu seolah sirna oleh setitik kelemahan yang tiba-tiba disadari ada di dalam diri.

Hanya karena setitik jerawat batu di hidung misalnya, seorang remaja putri bahkan ada yang enggan bertemu siapa pun. Tak ada yang dilakukannya selain berdiam di kamar. Menatap bayangan diri di cermin kamar sambil memencet-mencet jerawatnya. Lalu bilang, “kenapa jerawat sialan ini harus hinggap di wajahku. Aaah! Aku merasa telah menjadi orang terjelek sedunia.”

Begitu pula ketika seseorang lambat atau bahkan tidak menguasai suatu pelajaran tertentu, maka belum tentu dia itu orang yang bodoh. Banyak sekali penemu hal-hal besar di dunia ini yang awalnya begitu disepelekan karena kebodohannya.

Di sini saya angkat satu orang saja, Thomas Alva Edison. Siapa sangka penemu bola lampu modern dan pemegang 1.093 paten atas namanya ini, dulunya adalah orang yang dianggap sangat bodoh oleh guru-guru di sekolahnya? Saking bodohnya, para guru meminta orang tuanya untuk mengeluarkan Thomas kecil dari sekolah.

Maka tak ada alasan untuk terpuruk. Bangkitlah. Karena sebodoh dan serendah apapun seseorang dalam pandangan manusia, pasti ada saja hal-hal istimewa yang melekat padanya.

Hanya saja, tinggal sejauh mana kegigihan kita untuk menggali dan melesatkan keistimewaan diri yang tersembunyi, itulah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya.[]

Sabtu, 08 Maret 2014

PhotoStory: Masa Lalu Pasir Pantai


Judul: Masa Lalu Pasir Pantai
Lokasi Pemotretan: Pantai Desa Pasean, pesisir utara Pamekasan, Madura
Tanggal Pengambilan: 17 November 2013
Pukul: 17:18 WIB












Melihat pantai ini, memori saya seolah melayang ke masa lalu. Kembali terlintas di ingatan, dua pasang tapak kaki kecil sedang berlarian ke sana ke mari. Ceria menapaki pasir pantai yang halus dan selembut es krim. Kadang dua tapak kaki itu berhenti berlari. Berdiam di bibir pantai. Menikmati gulungan ombak yang membasuh lembut kaki-kaki kecil itu.

Dua pasang kaki kecil itu, adalah kaki saya dan sepupu saya di masa lalu. Pasir pantai yang halus dan selembut es krim itu, juga adalah hamparan pasir pantai di masa lalu. Dan segala keceriaan itu, adalah keceriaan masa lalu. Semuanya masih terbingkai dengan rapi di memori ini.

Kini, semua hanya tinggal memori. Tidak akan ada lagi didapati anak-anak berlarian dengan bebas di sana. Lihatlah foto di atas. Orang tua mana yang mengijinkan anaknya berlarian di tepi pantai itu. Saya saja, ketika berjalan di sana, harus berhati-hati. Salah langkah sedikit, atau berjalan cepat sedikit, kaki saya bisa berdarah-darah.

Manusia serakah telah mengambil semuanya. Tak hanya pasir pantai, tapi juga keceriaan anak-anak di pantai ini. Mereka mungkin hanya mendengar dari orang tua atau kakak-kakak mereka akan betapa indah dan menyenangkannya pantai ini. Tapi sekali lagi, semuanya hanyalah cerita-cerita indah di masa lalu.

Butiran pasir itu telah pergi. Dan akan sangat lama kembali.

Senin, 10 Februari 2014

PhotoStory: Tak Lagi di Pinggir Jalan


Judul: Tak Lagi di Pinggir Jalan
Lokasi Pemotretan: Jl. Guntur Melati, Garut, Jawa Barat
Tanggal Pengambilan: 19 Februari 2012

Pukul: 11:59 WIB













Dulu, biasanya orang segan untuk berbuat salah atau melanggar peraturan. Kini, rasa-rasanya nilai-nilai itu sudah mulai bergeser dan luntur. Tak ada lagi perasaan malu apalagi takut berbuat salah atau melanggar peraturan.

Termasuk dalam hal menaik turunkan penumpang seperti yang ada dalam foto di atas. Sopir angkot tenang saja berhenti di tengah jalan dan menaikkan penumpangnya. Tak ada lagi rasa bersalah dan malu telah mengganggu pengemudi lain di belakangnya. Atau tak ada lagi kekhawatiran apakah perbuatannya itu bisa mencelakakan orang lain.

Semua ini terjadi akibat prinsip hidup 'masa bodoh'. Masa bodoh dengan peraturan-peraturan. Masa bodoh dengan kepentingan orang lain. Atau mungkin, masa bodoh dengan Tuhan.

Ah, seandainya seluruh manusia di dunia ini merasa diawasi oleh Allah, maka mungkin polisi lalu lintas tak perlu lagi mencetak surat tilang. Termasuk dalam kasus-kasus lain, mungkin tidak diperlukan lagi penjara, hakim, jaksa, algojo, dan lain sebagainya.

Minggu, 02 Februari 2014

PhotoStory: Di Tepian Jalan


Judul: Di Tepian Jalan
Lokasi: Jl. Ir. H. Juanda, Bogor, Jawa Barat
Tanggal Pengambilan: 30 November 2013
Jam: 09:31:55

Mari sejenak melihat ke masa lalu. Berabad-abad tahun yang lalu. Menjejaki masa ketika seorang khalifah begitu merasa berdosa ketika baru mengetahui bahwa masih ada rakyatnya yang merintih kelaparan. Yang karena rasa bersalah itu, beliau pun mengambil, memikul, memberikan, bahkan memasak makanan untuk rakyatnya itu. Semuanya dilakukan dengan tangannya sendiri. Siapa beliau? Semua tahu bahwa beliau Amirul Mu’minin Umar bin Khattab.

Mari sejenak mundur beberapa tahun lagi dari peristiwa itu. Ketika manusia agung yang begitu dicintai Khalifah Umar masih hidup. Manusia agung dengan akhlak terbaik ini bahkan menyuapi makanan ke mulut seorang yahudi tua dan buta. Juga dengan tangannya sendiri. Padahal yahudi tua ini selalu memfitnah dan mencaci maki beliau ketika beliau menyuapinya. Siapa gerangan manusia berakhlak mulia ini? Beliaulah pembawa risalah Ilahi, Rasulullah Muhammad saw.

Lalu marilah kembali ke jaman ini. Sebuah masa di mana kita hidup dan mengukir sejarah masing-masing. Sebuah masa ketika foto di atas diambil. Adakah yang rela memikul makanan atau menyuapi dia yang meringkuk di tepian jalan itu? Ah, bahkan melirik saja sepertinya tidak.

Padahal, orang di tepian jalan itu bukanlah satu-satunya. Bukan satu-satunya di negeri ini.