Kau selalu bertanya padaku. Tentang hal-hal yang ingin kau ketahui. Dan kau selalu datang, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu.
Lalu, setelah itu, kau juga selalu pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu. Buru-buru mencocokkan berbagai jawaban yang kau dapatkan dengan dunia nyata tempatmu hidup dan melihat segalanya berjalan.
Dan aku yakin, kau pasti akan kembali lagi. Karena memang, hidupmu selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang kadang aku sendiri tak tahu harus bagaimana jawabannya kurajut, logikanya kubangun, dan teorinya kucipta.
Di malam yang tenang ini, kau datang. Waktu yang selayaknya bisa membuat pertanyaan demi pertanyaan bisa sejenak mengenap dalam buaian mimpi-mimpi.
Namun rasa-rasanya, kau tak akan mampu menyimpannya hingga pagi menjelang. Kau sudah tahu bahwa mimpi-mimpi tak ubahnya obat penenang belaka. Esok ketika pendar jingga mulai merona di kaki langit timur, rimbunan petanyaan itu bahkan bisa tumbuh berlipat-lipat.
Maka dapat kupastikan, kau masih seperti semula. Datang kesini hanya untuk bertanya. Tak lebih dari itu. Bahkan sebenarnya, kau tidak membutuhkan jawaban-jawaban. Bertanya, itulah sebenarnya jawabanmu.
Kucicipi segelas kopi di depanku, kemudian menatapmu tenang dan bersahaja. Kali ini kau bertanya tentang sesuatu yang selalu dikejar-kejar penghuni Bumi. Kebahagiaan, di manakah ia berada?
Mual dan pening aku menerima pertanyaanmu. Bukan karena aku tak paham. Bukan pula karena aku tak seperti mereka. Tidak ikut-ikutan mengejar kebahagiaan. Sungguh bukan. Tapi terlebih karena aku memiliki pengalaman panjang mengejar kebahagiaan. Pengalaman, yang kadang kalau diingat-ingat, benar-benar menyesakkan. Membuat mual dan pening.
Tahukah kau, bahwasanya saudara kembar dari kebahagiaan adalah kesengsaraan. Mereka serupa tapi tak sama. Jika kau tak bersua dengan kebahagiaan, maka kau hanya akan berjabat tangan dengan saudara kembarnya. Pengalaman panjang itu mengajarkan aku demikian.
Akan tetapi, aku tak tega melihat matamu itu. Sinar matamu merajuk, meminta, seolah-olah ia berkata, apapun yang terjadi, aku ingin tetap bertanya. Padamu.
Baiklah. Kebahagiaan, di manakah ia berada? Matamu berbinar, bersiap menyimak. Sedangkan aku semakin mual dan pening.
Kutarik napas panjang sejenak. Sekilas kupandangi purnama nun jauh di sana.
Lama kau tunggu jawabanku. Namun yang terjadi adalah, malah aku yang bertanya padamu; jika kau bertanya tentang tempat tinggal kebahagiaan, lalu, sejauh mana kau telah mencarinya?
Binar matamu meredup. Seolah-olah ia berkata, jangan tanyakan itu padaku, karena sebenarnya kau tahu, usahaku serasa sudah maksimal. Sudah berdarah-darah. Sudah kulangkahkan kaki ribuah kilometer jauhnya dari sebuah tempat bernama rumah.
Sepertinya gubuk kebahagiaan berada di utara, lalu kukayuh sepeda mengejarnya. Lalu setelah tiba di utara, aku bingung, tak tampak sekalipun gubuk kebahagiaan itu. Seperti yang kau katakan, yang ada hanya gubuk saudara kembarnya. Aku bersalaman dengannya.
Aku bersimpuh lesu. Dengan sepeda rubuh di sampingku.
Sekonyong-konyong melintas serombongan kafilah dari selatan. Kata mereka, rumah kebahagiaan ada di selatan.
Tanpa pikir panjang, kutumpangi bis tercepat menuju selatan. Aku bingung lagi, sesampai di sana, tak sekalipun tampak rumah kebahagiaan itu. Yang tampak hanya rumah saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.
Aku terduduk lesu. Menatap sayu bis yang mulai berlalu.
Lalu hinggap di depanku serombongan burung dari barat. Mereka bersiutan. Riuh memberitahu bahwa istana kebahagiaan itu ada di barat.
Bisa kau bayangkan bukan, betapa tertariknya aku. Ini bukan lagi sekedar rumah apalagi gubuk kebahagiaan. Ini istananya kebahagiaan! Saat itu, belum sanggup kubayangkan sebesar apa istana kebahagiaan ini.
Maka kembali kulangkahkan kaki. Seiring dengan berseminya harapan, kutumpangi kereta tercepat menuju barat. Tunggu aku wahai istana kebahagiaan!
Namun sesampai di sana, kuhanya bisa membiarkan kereta tercepat berlalu dengan wajah sendu. Tahukah kau? Di sana tak ada sekalipun istana kebahagiaan itu. Yang ada hanya istana saudara kembarnya. Aku kembali bersalaman dengannya.
Aku mulai muak. Dunia ini ternyata dipenuhi omong kosong.
Di tengah memuncaknya kekesalan hati, datanglah padaku seorang lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan. Dia mengatakan bahwa surganya kebahagiaan ada di timur.
Ini lebih hebat dari sekedar istana. Tapi aku sudah terlanjur muak. Ini pati omong kosong! Yang ada pastilah surga versi saudara kembarnya. Dan aku tak mau lagi bersalaman dengannya.
Kulangkahkan kaki ini. Tapi tidak. Tidak ke timur, melainkan ke...
Aku tahu. Maaf aku memotong ceritamu. Aku tahu ke mana kau pergi setelah itu. Bukankah sekarang kau ada di hadapanku? Bukankah kau selalu datang dan bertanya, tanpa lebih dahulu memberi tahu, apalagi mengetuk pintu?
Dan kau mengangguk pelan.
Ketahuilah wahai tamuku, kebahagiaan itu hampir serupa dengan bayanganmu sendiri. Jika kau diam, dia akan diam. Jika kau kejar, dia akan berlari secepat kau mengejarnya.
Tak peduli kau mengejarnya jauh hingga ribuan kilometer dari rumahmu, yang kau dapatkan hanya kesia-siaan. Kau mungkin tak akan merasakannya, karena yang kau kejar sebenarnya adalah bayanganmu sendiri. Begitu dekat. Bahkan ia adalah cerminan dari dirimu.
Keningmu mengerut. Lalu kau bertanya lagi, kalau kau begitu dekat dengan kebahagiaan itu, kenapa kau tak bisa merasakannya? Apalagi melihatnya?
Itu simple terjadi karena kau membelakangi bayanganmu. Cukuplah kau menoleh ke arahnya, searah dengan datangnya cahaya, maka kau akan melihatnya.
Maka kawan, jika kau datang ke sini untuk mendapatkan jawaban, maka jawabannya adalah, menolehlah. Tolehkanlah persepsi dalam dirimu. Lihatlah hal-hal sekecil apa pun yang membuatmu bahagia. Maka kau akan mulai tersenyum, dan kau akan bahagia saat itu juga. Tanpa harus berkelana ribuan kilometer jauhnya dari rumahmu.
Bayanganmu akan selalu kau lihat manakala kau tahu dari arah mana cahaya datang menyinarimu. Sama juga dengan kebahagiaan. Kebahagiaanmu juga tak akan pernah habis manakala kau tahu siapakah Dia Sang Maha Pencipta kebahagiaan. Yang karenaNya makhluk bernama kebahagiaan tercipta untuk menemani harimu, hariku, dan hari kita semua.
Maka benar, kau tidak perlu memperhatikan ucapan lelaki dengan pakaian berkibar-kibar tertiup angin musim penghujan itu. Semestinya pula, kau acuhkan saja igauan serombongan kafilah dari selatan yang kau jumpai. Apalah lagi hanya siutan serombongan burung dari barat. Percayalah padaku, mereka semua tak ada beda dengan kau saat ini, galau mencari sesuatu bernama kebahagiaan.
Kusandarkan punggung ini pada daun kursi. Memejamkan mata. Kuhela napas pelan. Tak kuperdulikan wajahmu yang sekilas kulihat terpana dengan mulut ternganga.
Hening.
Kubuka mata sesaat setelah kudengar derit pintu ruang tamu membuka dengan cepat. Kudapati diriku hanya sendiri di ruang tamu rumahku sendiri. Menatap daun pintu yang kini terbuka. Melambai-lambai pelan tertiup sepoi angin barat.
Ah! Kau telah pergi. Selalu saja begitu. Pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pula menutup pintu.
Aku hanya bisa maklum. Itu artinya, kau sudah selesai bertanya. Itu kan yang kau harapkan?
Aku juga mengerti. Suatu saat kau akan datang lagi. Tanpa lebih dahulu memberitahu, apalagi mengetuk pintu.
Aku tahu itu. Aku tahu karena, kau selalu bertanya padaku.