Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Senin, 21 April 2014

The Power of Harapan


Harapan. Ia ada di setiap relung hati manusia yang terdalam. Mengalun dalam segenap gerak, berhembus dalam setiap helai napas. Begitu ia padam, maka sebenarnya, di sanalah akhir dari semua cerita.

Dari sekian banyak harapan, marilah kita kumpulkan terlebih dahulu beberapa harapan yang mungkin terpendam dalam hati manusia; ingin sekolah, lulus ujian, mampu mencari nafkah, menikah, punya anak soleh dan solehah, masa tua yang terjamin, mendapat ridho Allah, masuk surga, dan masih banyak lagi.

Karena harapanlah, manusia bisa melampaui situasi yang sulit dan menyebalkan. Juga karena harapanlah, manusia bisa bertahan tinggal di sebuah tempat dengan kondisi yang jauh dari layak dan membuat tertekan. Berapa banyak kita jumpai orang-orang miskin, kekurangan pangan, papan, atau bahkan sandang. Mereka hidup serba kekurangan, bukan? Tapi mereka tetap bisa bertahan di tengah keterbatasan itu. Semua itu terjadi karena sebenarnya masih ada secercah harapan di hati mereka. Harapan akan hari esok yang lebih baik.

Juga adakah manusia di dunia ini yang tidak pernah merasakan pahitnnya kegagalan? Jawabannya tentu tidak ada. Setiap orang tentu pernah merasakan kegagalan. Entah kegagalan kecil maupun kegagalan besar. Tak sedikit yang terpuruk, hancur lebur di tengah keputusasaannya. Namun ada juga yang bangkit, mengejar kembali harapan-harapan baru yang kembali dirangkainya.

Kita lihat misalnya dalam sebuah dunia fiksi, dalam novel Laskar Pelangi. Bagi seorang Lintang, kemiskinan ternyata tak mampu menghalangi langkahnya menempuh puluhan kilometer pulang pergi naik sepeda ontel hanya untuk mendapatkan sebuah pendidikan. Tak peduli meski harus berhadapan dengan buaya yang melintang di tengah jalan. Buncah harapan itu ternyata bisa mengalahkan semua rintang.

Juga dalam dunia nyata. Marilah sejenak kita mundur ke masa berabad-abad lamanya. Sebuah jaman di mana belum ada mobil atau motor untuk berpergian. Hanya unta atau kuda yang menjadi pengantar setia perjalanan jauh. Sebuah masa di kala berhala-berhala dipuja. Sebuah masa di kala bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Kala itulah muncul seorang manusia mulia, Rasulullah Muhammad saw.

Rasulullah saw dan kebanyakan sahabatnya hidup dalam keterbatasan materi. Tak sedikit di antara sahabat yang bahkan mengganjal perutnya dengan batu, untuk menahan lapar. Rumah mereka, apalagi rumah junjungan kita Rasulullah saw, bukanlah rumah mewah bertaburkan permadani indah dan perabot rumah yang mahal dan enak dipandang. Namun lebih pada rumah sangat sederhana yang jauh sekali dari model rumah para pemimpin saat ini yang serba wah dan tak jarang harganya bisa mencapai milyaran rupiah.

Namun, harapan ternyata mampu mengalahkan semua keterbatasan itu. Harapan besar agar Islam tersebar seluas-luasnya, dikenal oleh sebanyak-banyaknya manusia, menjadi semacam way of life bagi seluruh manusia di muka bumi tanpa terkecuali. Juga harapan besar agar umat manusia terbebas dari penyembahan kepada selain Allah swt.

Hasilnya? Kita bisa lihat sekarang. Berabad-abad lamanya setelah Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat meninggal, Islam masih bersinar di muka bumi ini. Hingga rasa-rasanya, tak akan ada satu pun manusia di Bumi ini yang tidak pernah mendengar kata ‘Islam’ itu sendiri.

Tidak bisa dibayangkan seandainya harapan Rasulullah saw dan para sahabat dulu padam. Hilang oleh segala keterbatasan hidup dan tekanan dari orang-orang kafir saat itu, maka musibah besar umat manusia pastilah akan menimpa. Manusia mungkin tidak akan pernah mengenal apa itu Islam. Jangankan mengenal, mengenal kata ‘Islam’ saja mungkin tidak.

Oleh karenanya, ketika harapan telah padam, maka sebenarnya, di sanalah akhir dari semua cerita. Karena sebenarnya, bukan jantung semata yang berperan membuat seseorang tetap gagah menjalani hidupnya. Karena jika harapan telah padam, seseorang bahkan bisa memutuskan menikam jantungnya sendiri.

Rabu, 02 April 2014

Di Kala Menunggu Reda Hujan


Sore ini, Rabu, 02 April 2014, aku belum bisa beranjak dari pelataran Masjid Raya Bogor. Belum bisa pulang. Hujan yang turun, membuat aku tak bisa melangkah keluar, mencari angkot yang akan mengantarkan raga ini sampai ke rumah.

Tapi aku bahagia. Setidaknya, dari salah satu sisi masjid ini, aku bisa menatap hujan yang menerpa atap-atap rumah. Sesuatu yang sedari kecil – yang jarang kulakukan ketika usia ini semakin tua – sangat aku sukai. Entah kenapa, di setiap tetes demi tetes air langit itu turun menyapa semua yang ada di Bumi, hatiku menjadi amat tenteram. Hawa dingin serta aroma khasnya yang begitu kental kurasakan, bahkan bisa mendamaikan hatiku. Membawa kesegaran tak biasa yang seolah membangkitkan gairah untuk menjalani hidup.

Hujan semakin menderas. Bulir-bulirnya semakin banyak, mengaburkan pandangan. Seolah-olah ia berkata, “Sore ini, tetaplah kau di sini, Kawan. Lihatlah aku. Begitu bergairah melaksanakan tugas yang dititahkan Sang Pencipta alam semesta padaku. Selalu bersemangat menyapa dan menghidupi tanah-tanah gersang berdebu. Lihatlah, aku adalah rahmat-Nya yang baru tercipta. Apakah kau menyukaiku?”


Dalam diam, hatiku menjawab, “tentu saja aku menyukaimu, Hujan. Sejak kecil, ketika awan pekat mulai berarak menghias langit desa, aku selalu bersiap menyongsong kehadiranmu. Bersiap-siap dengan sejuta alasan yang kukarang untuk membujuk ibu supaya diperbolehkan berlarian mengitari rumah untuk bermain-main denganmu.”

“Dan aku selalu senang luar biasa ketika ibu mengijinkan. Dengan bertelanjang dada, aku berlari mengelilingi rumah. Berlari sambil menengadahkan wajah. Kau ingin tahu apa yang kurasakan saat itu? Kedamaian dan keceriaan yang begitu mendalam. Yang mungkin bahkan tak akan bisa kudapatkan dengan hanya nonton Ultraman, Power Ranger, atau makan bakso dan mie ayam. Mungkin engkau benar, dan para guru pastilah benar, bahwa engkau adalah rahmat-Nya yang baru tercipta. Hingga aku harus mengucapkan ini ketika berjumpa denganmu: Allahumma soyyiban nafian.”


Sebenarnya, maksud hati hendak berlama-lama bercerita tentang hujan. Menggali semua memori yang ada. Mengisahkan semua kisah tentangnya. Namun apa daya, indikator betere netbook sudah menyala merah. Pertanda dayanya sudah sangat lemah. Hampir habis setelah hampir satu jam menemaniku bercuap-cuap di radio terkait nasib buruk yang menimpa TKW nun jauh di negeri orang sana.

Maka, di antara riuh kerumunan anak-anak SD yang entah melakukan apa di pojokan sana, di antara beberapa orang yang ikut termanggu menunggu reda hujan di pelataran masjid, kuakhiri saja coretan ‘ngasal’ tentang hujan ini.

Akan kututup layar netbook, dan kembali menatap hujan yang mulai ditemani angin.[]