Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Senin, 31 Maret 2014

Benarkah Saya Spesial?


Setiap manusia dilahirkan spesial. Tak peduli dia keluar dari rahim seorang budak hina yang hitam legam sekalipun, dia tetaplah manusia, tetaplah spesial. Bahkan meskipun dia dilahirkan dalam keadaan hitam putih – kulit hitam gigi putih – dia tetaplah spesial. Diciptakan dan dilahirkan bukan karena Tuhan iseng, melainkan ada tujuan pasti di balik semuanya.

Namun demikian, ternyata tak sedikit manusia yang tumbuh menjadi peragu. Ragu atas dirinya sendiri. Tenggelam dalam pertanyaan, benarkah saya spesial? Bukankah ketika cermin memantulkan bayangan wajahnya, wajah itu penuh dengan jerawat? Bukankah ketika ia berdiri bersisian dengan orang lain, dia selalu yang paling pendek? Bukankah ketika disodorkan soal-soal, otaknya selalu buntu bahkan kadang heng? Lalu di mana letak istimewanya?

Entah pernah membaca atau mendengar, yang jelas, saya pernah menjumpai perumpamaan ini; kemarau setahun, sirna oleh hujan sehari. Sesuatu yang besar, hilang hanya oleh sesuatu yang remeh. Seseorang mungkin punya segudang kelebihan. Tapi semua kelebihan itu seolah sirna oleh setitik kelemahan yang tiba-tiba disadari ada di dalam diri.

Hanya karena setitik jerawat batu di hidung misalnya, seorang remaja putri bahkan ada yang enggan bertemu siapa pun. Tak ada yang dilakukannya selain berdiam di kamar. Menatap bayangan diri di cermin kamar sambil memencet-mencet jerawatnya. Lalu bilang, “kenapa jerawat sialan ini harus hinggap di wajahku. Aaah! Aku merasa telah menjadi orang terjelek sedunia.”

Begitu pula ketika seseorang lambat atau bahkan tidak menguasai suatu pelajaran tertentu, maka belum tentu dia itu orang yang bodoh. Banyak sekali penemu hal-hal besar di dunia ini yang awalnya begitu disepelekan karena kebodohannya.

Di sini saya angkat satu orang saja, Thomas Alva Edison. Siapa sangka penemu bola lampu modern dan pemegang 1.093 paten atas namanya ini, dulunya adalah orang yang dianggap sangat bodoh oleh guru-guru di sekolahnya? Saking bodohnya, para guru meminta orang tuanya untuk mengeluarkan Thomas kecil dari sekolah.

Maka tak ada alasan untuk terpuruk. Bangkitlah. Karena sebodoh dan serendah apapun seseorang dalam pandangan manusia, pasti ada saja hal-hal istimewa yang melekat padanya.

Hanya saja, tinggal sejauh mana kegigihan kita untuk menggali dan melesatkan keistimewaan diri yang tersembunyi, itulah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya.[]

Sabtu, 08 Maret 2014

PhotoStory: Masa Lalu Pasir Pantai


Judul: Masa Lalu Pasir Pantai
Lokasi Pemotretan: Pantai Desa Pasean, pesisir utara Pamekasan, Madura
Tanggal Pengambilan: 17 November 2013
Pukul: 17:18 WIB












Melihat pantai ini, memori saya seolah melayang ke masa lalu. Kembali terlintas di ingatan, dua pasang tapak kaki kecil sedang berlarian ke sana ke mari. Ceria menapaki pasir pantai yang halus dan selembut es krim. Kadang dua tapak kaki itu berhenti berlari. Berdiam di bibir pantai. Menikmati gulungan ombak yang membasuh lembut kaki-kaki kecil itu.

Dua pasang kaki kecil itu, adalah kaki saya dan sepupu saya di masa lalu. Pasir pantai yang halus dan selembut es krim itu, juga adalah hamparan pasir pantai di masa lalu. Dan segala keceriaan itu, adalah keceriaan masa lalu. Semuanya masih terbingkai dengan rapi di memori ini.

Kini, semua hanya tinggal memori. Tidak akan ada lagi didapati anak-anak berlarian dengan bebas di sana. Lihatlah foto di atas. Orang tua mana yang mengijinkan anaknya berlarian di tepi pantai itu. Saya saja, ketika berjalan di sana, harus berhati-hati. Salah langkah sedikit, atau berjalan cepat sedikit, kaki saya bisa berdarah-darah.

Manusia serakah telah mengambil semuanya. Tak hanya pasir pantai, tapi juga keceriaan anak-anak di pantai ini. Mereka mungkin hanya mendengar dari orang tua atau kakak-kakak mereka akan betapa indah dan menyenangkannya pantai ini. Tapi sekali lagi, semuanya hanyalah cerita-cerita indah di masa lalu.

Butiran pasir itu telah pergi. Dan akan sangat lama kembali.