Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Senin, 10 Februari 2014

PhotoStory: Tak Lagi di Pinggir Jalan


Judul: Tak Lagi di Pinggir Jalan
Lokasi Pemotretan: Jl. Guntur Melati, Garut, Jawa Barat
Tanggal Pengambilan: 19 Februari 2012

Pukul: 11:59 WIB













Dulu, biasanya orang segan untuk berbuat salah atau melanggar peraturan. Kini, rasa-rasanya nilai-nilai itu sudah mulai bergeser dan luntur. Tak ada lagi perasaan malu apalagi takut berbuat salah atau melanggar peraturan.

Termasuk dalam hal menaik turunkan penumpang seperti yang ada dalam foto di atas. Sopir angkot tenang saja berhenti di tengah jalan dan menaikkan penumpangnya. Tak ada lagi rasa bersalah dan malu telah mengganggu pengemudi lain di belakangnya. Atau tak ada lagi kekhawatiran apakah perbuatannya itu bisa mencelakakan orang lain.

Semua ini terjadi akibat prinsip hidup 'masa bodoh'. Masa bodoh dengan peraturan-peraturan. Masa bodoh dengan kepentingan orang lain. Atau mungkin, masa bodoh dengan Tuhan.

Ah, seandainya seluruh manusia di dunia ini merasa diawasi oleh Allah, maka mungkin polisi lalu lintas tak perlu lagi mencetak surat tilang. Termasuk dalam kasus-kasus lain, mungkin tidak diperlukan lagi penjara, hakim, jaksa, algojo, dan lain sebagainya.

Minggu, 02 Februari 2014

PhotoStory: Di Tepian Jalan


Judul: Di Tepian Jalan
Lokasi: Jl. Ir. H. Juanda, Bogor, Jawa Barat
Tanggal Pengambilan: 30 November 2013
Jam: 09:31:55

Mari sejenak melihat ke masa lalu. Berabad-abad tahun yang lalu. Menjejaki masa ketika seorang khalifah begitu merasa berdosa ketika baru mengetahui bahwa masih ada rakyatnya yang merintih kelaparan. Yang karena rasa bersalah itu, beliau pun mengambil, memikul, memberikan, bahkan memasak makanan untuk rakyatnya itu. Semuanya dilakukan dengan tangannya sendiri. Siapa beliau? Semua tahu bahwa beliau Amirul Mu’minin Umar bin Khattab.

Mari sejenak mundur beberapa tahun lagi dari peristiwa itu. Ketika manusia agung yang begitu dicintai Khalifah Umar masih hidup. Manusia agung dengan akhlak terbaik ini bahkan menyuapi makanan ke mulut seorang yahudi tua dan buta. Juga dengan tangannya sendiri. Padahal yahudi tua ini selalu memfitnah dan mencaci maki beliau ketika beliau menyuapinya. Siapa gerangan manusia berakhlak mulia ini? Beliaulah pembawa risalah Ilahi, Rasulullah Muhammad saw.

Lalu marilah kembali ke jaman ini. Sebuah masa di mana kita hidup dan mengukir sejarah masing-masing. Sebuah masa ketika foto di atas diambil. Adakah yang rela memikul makanan atau menyuapi dia yang meringkuk di tepian jalan itu? Ah, bahkan melirik saja sepertinya tidak.

Padahal, orang di tepian jalan itu bukanlah satu-satunya. Bukan satu-satunya di negeri ini.