Halo semua! Selamat datang di Badiraf BlockNote. Tempat mangkalnya goresan pena Badiraf versi dunia maya. Silahkan duduk manis, dan selamat membaca.

Kunjungi juga Twitter dan Instagram Badiraf di:
@badiraf

Kamis, 21 Maret 2013

Kelapa Muda Kupas-Kupasin



Ahad, 17 Maret 2013. Tengah hari. Saya menjadi bagian dari sebuah rombongan. Tepatnya rombongan santri Pesantren Media yang hendak mengikuti sebuah lomba olimpiade matematika tingkat nasional.

Meskipun saya ikut dalam rombongan ini, saya bukanlah ‘serdadu’ yang akan ikut berkompetisi. Saya, meskipun bisa dikatakan yang ‘terbongkok’ di antara santri-santri yang lain, belum mempunyai kemampan yang mumpuni dalam hal matematika. Kesalahan di masa lalu mungkin ikut andil di dalamnya.

Meskipun tidak ikut bertanding, saya sangat senang ikut dalam rombongan ini. Dengan memberikan support pada mereka yang bertanding, saya merasa, seakan-akan saya berada di tengah-tengah kesibukan mereka. Ikut berjibaku dalam memecahkan serta mengurai kode dan angka. Meskipun sekali lagi, itu hanya perasaan saja.

Setelah beberapa waktu, lomba pun usai. Dari pintu aula pertandingan, muncul puluhan wajah dengan ekspresinya masing-masing. Ada yang keluar dengan wajah berseri-seri, seolah-olah menceritakan keberhasilannya mengurai soal yang ada. Ada yang keluar dengan wajah kuyu plus mata layu. Seolah-olah masa depan sudah dapat dipastikan, bahwa ia tidak akan memenangkan perlombaan ini. Ada juga ekspresi wajah yang tidak jelas. Yang ini memang susah ditebak.

Usai lomba, kami pun pulang. Di perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah kedai yang khusus menjual kelapa muda. Penjualnya adalah seorang wanita bertudung yang ternyata sangat pandai dalam hal kupas mengupas kelapa.

Dulu, ketika saya masih di kampung halaman, saya sering mengupas kelapa muda. Saya masih ingat, ketika pertama kali mengupasnya, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Membutuhkan waktu yang cukup lama. Golok yang saya ayunkan seringkali tidak tepat sasaran. Melenceng dari sasaran yang saya tentukan sebelumnya. Untung tidak melenceng kena tangan. Hasilnya, disamping lama, kupasan kelapa yang dihasilkan juga berantakan.

Lain halnya dengan wanita penjual kelapa yang saya temui hari itu. Dia adalah pengupas kelapa terbaik yang pernah saya lihat hingga saat ini. Cepat, tepat, rapi. Dalam rentang waktu yang sama dengan waktu yang dulu saya butuhkan ketika mengupas sebuah kelapa, wanita ini telah menyelesaikan pekerjaannya, menghidangkan kelapa muda yang telah dikupas untuk seluruh rombongan.

Melihat kelapa muda yang silih berganti dikupas oleh si wanita, saya jadi ingat sebuah pantun. Pantun yang sering saya dengar di waktu kecil. Bunyinya kurang lebih begini:

“Kelapa muda kupas-kupasin, kelapa tua tinggal batoknya. Di waktu muda puas-puasin, sudah tua tinggal bongkoknya.”

Saya termenung, menghayati isi pantun ini. Memang, masa muda adalah masa yang berharga. Masa yang masih segar, penuh dengan energi. Maka, mumpung masih muda, mari puas-puasin belajar. Mumpung masih muda, mari puas-puasin beribadah. Mumpung masih muda, mari bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya manusia lain. Mumpung masih muda, karena jika sudah tua, sudah tinggal bongkoknya, tak banyak lagi yang bisa kita lakukan.

Jangan malah terbalik. Mumpung masih muda, puas-puasin teler. Mumpung masih muda, puas-puasin main wanita. Mumpung masih muda, puas-puasin pakai narkotika. Sekali lagi jangan. Karena kalau sudah bongkok, sudah renta, apalagi sudah mati, kita akan menyesal karena tak banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk menebus semuanya itu.[]